Well, that’s Life

•April 23, 2010 • 9 Comments

Sebagai manusia yang masih merasakan hidup di dunia ini sering sekali kita lupa dengan betapa beruntungnya kita atas hidup dan dunia itu. Bahkan ada ungkapan “you don’t know what you’ve got until you lose it“, sesuatu yang kita miliki sering tidak kita sadari keberadaannya hingga sesuatu itu tiada.

Harus diakui memang kita punya sifat dasar yang memalukan sebenarnya, lupa. Lupa ini lah yang jadi dasar segala sifat amit-amit dan ngeselin dari manusia. Ada orang yang lupa cara bersopan-santun, sehingga dijuluki gak tahu aturan, ada yang lupa caranya bersabar sehingga kerjanya marah-marah terus, ada yang sering lupa caranya bernegosiasi sehingga maunya main gebuk terus, dan banyak lagi turunan dari lupa ini yang akhirnya melahirkan konsekwensi gak enak yang harus ditanggung oleh si pelupa itu dan orang sekitarnya.

Dari sekian banyak lupa itu salah satunya adalah lupa untuk menghargai hidup itu sendiri. Mungkin karena keberadaan itu adalah sesuatu yang ‘given‘ satu paket dengan munculnya kita sebagai entitas di alam ini, tanpa kita harus berbuat apapun untuk mendapat hidup. Itu juga mungkin yang membuat kita sering lupa dengan keberadaan manusia-manusia paling dekat dengan kita, orang tua kita. Karena itu dua hal tersebut justru paling sering kita abaikan di saat kita sibuk dalam segala usaha mencari hal-hal lain di dunia yang kita pikir lebih berharga.

Kehilangan orang tua ataupun orang-orang terdekat adalah cara yang paling pahit dan pedih sebagai pelajaran mengenai menghargai sesuatu yang kita miliki. Tapi hal tersebut adalah biasa, dan kita pun akhirnya terlatih untuk terus menjalani hidup yang normal. Tetapi seharusnya hal itu selalu jadi pengingat kita bahwa ada hal lain yang harus lebih kita hargai keberadaannya sebelum hal itu hilang, yaitu hidup kita sendiri. Karena tidak ada kesempatan untuk balik lagi bila sudah mencapai titik itu. No turning back.

Dari situ kita sebenarnya dituntut untuk jangan pernah lupa akan ‘hidup’ kita ini, lebih menghargai dan memaknai hidup, menjaga hidup kita. Kalau hidup diibaratkan seperti binatang piaraan kesayangan, pasti makanan terbaik yang selalu diberikan pada hidup. Hidup juga diberi kandang yang bagus, dibersihkan dari kotoran-kotarannya, bahkan sekali-kali hidup dibawa jalan-jalan atau dibawa ke salon binatang dan general check up oleh dokter hewan.

Masalahnya, selain sering lupa pada hewan piaraan bernama hidup itu, kita juga sering lupa jenis apa sebenarnya hewan kita itu. Kadang hidup kita itu sebenarnya adalah seekor ikan arowana, tapi malah kita kasih makan whisk*s dan diajak jalan-jalan sore.

(Inspired by “We’re all gonna die“, Simon Hoegsberg).

Jatuh Bangun

•April 15, 2009 • 3 Comments

Why stop? Life is too precious to be ignored. Let’s appreciate it by documenting it. Keep writing, anything. Be a one-liner or a one-worder. Just don’t stop.

Keriput

•July 21, 2008 • 17 Comments

Entah kenapa, semua cerita cinta dalam berbagai media selalu berakhir sebelum sang tokoh-tokoh itu menikah. Latar waktu drama romantis seolah hanya bagus bila berlangsung saat tak ada ikatan yang legal dalam cinta itu. Ayu Utami pernah mempertanyakan hal ini dalam kumpulan essay nya “Si Parasit Lajang”.


Continue reading ‘Keriput’

Paradise

•July 14, 2008 • 14 Comments

How to build a paradise?

Continue reading ‘Paradise’

Positif

•June 30, 2008 • 20 Comments

Di salah satu sudut Jalan Suryakencana Bogor ada seorang bapak penjual kelapa muda. Dia membawa buah kelapa muda dagangannya dengan pikulan. Lalu dia berhenti menumpang di sebelah tukang jajanan lainnya seperti toge goreng, gado-gado, baso, comro, dan sebagainya.

Nanti kalau ada orang yang selesai makan salah satu jajanan itu, si bapak tua dengan senyumnya yang memperlihatkan kerut keriput menawarkan kelapa mudanya. Lalu bila orang yang ditawarkan itu mau, si bapak akan dengan sigap memotong bagian atas kelapa dengan goloknya, dibersihkan sedikit, diberi sedotan supaya bisa langsung diminum.


Continue reading ‘Positif’

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.