Why stop? Life is too precious to be ignored. Let’s appreciate it by documenting it. Keep writing, anything. Be a one-liner or a one-worder. Just don’t stop.
Keriput
•July 21, 2008 • 17 CommentsEntah kenapa, semua cerita cinta dalam berbagai media selalu berakhir sebelum sang tokoh-tokoh itu menikah. Latar waktu drama romantis seolah hanya bagus bila berlangsung saat tak ada ikatan yang legal dalam cinta itu. Ayu Utami pernah mempertanyakan hal ini dalam kumpulan essay nya “Si Parasit Lajang”.
Positif
•June 30, 2008 • 20 CommentsDi salah satu sudut Jalan Suryakencana Bogor ada seorang bapak penjual kelapa muda. Dia membawa buah kelapa muda dagangannya dengan pikulan. Lalu dia berhenti menumpang di sebelah tukang jajanan lainnya seperti toge goreng, gado-gado, baso, comro, dan sebagainya.
Nanti kalau ada orang yang selesai makan salah satu jajanan itu, si bapak tua dengan senyumnya yang memperlihatkan kerut keriput menawarkan kelapa mudanya. Lalu bila orang yang ditawarkan itu mau, si bapak akan dengan sigap memotong bagian atas kelapa dengan goloknya, dibersihkan sedikit, diberi sedotan supaya bisa langsung diminum.
Pagar
•June 27, 2008 • 14 CommentsAdegan paling populer di televisi belakangan ini adalah tayangan sekumpulan orang yang menggoyang-goyang pagar. Entah itu rombongan yang mengaku mahasiswa pembela kepentingan rakyat, atau barisan pendukung calon kepala daerah, atau front ini dan itu, semua punya hobby sama. Bergerombol di depan pagar dan setelah agak panas mulai adegan saling dorong pagar dengan gerombolan berseragam di balik pagar.
