Pagar
Adegan paling populer di televisi belakangan ini adalah tayangan sekumpulan orang yang menggoyang-goyang pagar. Entah itu rombongan yang mengaku mahasiswa pembela kepentingan rakyat, atau barisan pendukung calon kepala daerah, atau front ini dan itu, semua punya hobby sama. Bergerombol di depan pagar dan setelah agak panas mulai adegan saling dorong pagar dengan gerombolan berseragam di balik pagar.
…
Hampir tiap hari di siaran berita televisi terlihat adegan seperti itu. Biasanya adegan berakhir dengan ekspresi kepuasan bila pagar yang digoyang-goyang tersebut rubuh. Berbagai macam jenis pagar telah menjadi korban, baik yang model pagar besi biasa, pagar besi yang ujungnya runcing-runcing, bahkan kadang kolom beton pengikat pagarnya juga ikut roboh.
Dari sudut pandang terhadap pagar, memang pagar tidak pernah dirancang untuk memikul beban berat. Karenanya pondasi pagar baik kapasitas maupun dimensinya berbeda dengan pondasi bangunan. Apalagi secara spesifik struktur pagar tidak untuk menahan beban dorong horizontal seperti yang diberikan oleh para gerombolan komunitas penggoyang pagar tadi.
Di sini terlihat dilema keberadaan sebuah pagar. Secara teknis tidak pernah diperhatikan lebih, tetapi efek psikologis dari keruntuhan pagar ternyata sangat besar. Tidak sepadan dengan kapasitas yang dimilikinya. Terbukti dari kegembiraan komunitas penggoyang pagar yang cukup senang bila merubuhkan pagar, sehingga mereka setelah itu tidak melakukan tindakan lanjutan. Misi mereka sepertinya cukup merubuhkan pagar.
Memang dari kronologis keberadaannya pagar hanya diperuntukkan sebagai batas psikologis bukan batas fisik. Beda dengan benteng yang memang sebagai batas perlindungan fisik. Pagar hanya berfungsi menetapkan garis batas teritori. Bagian mana yang boleh di lewati dan mana yang tidak. Dia hanya merepresentasikan sebuah garis batas.
Melihat pergeseran fungsi pagar itu, mungkin sudah saatnya pagar jaman sekarang dirancang dengan kapasitas yang lebih besar. Mungkin setara dengan sebuah benteng. Sekalian dengan parit berisi buaya di depannya.

nah makanya saya males nonton tipi pak. mending gelut sama benang dan jarum deh :D
btw, dah duluan masuk tipi pak. kalo radio malah baru kali ini :D
linda said this on June 27, 2008 at 10:10 am |
emm… bagaimana kalo pake teknologi shield di startrek ;)
snydez said this on June 27, 2008 at 11:01 am |
makanya yang berbayar dong… :D
balibul said this on June 27, 2008 at 4:26 pm |
gak usah pake pagar aja gimana? jadi gak ada yang goyang2 kan?
aaqq said this on June 27, 2008 at 8:01 pm |
Kalau saja diatas pagar itu diletakkan saringan dan dalam saringan itu diisi tepung, mestinya bisa sekalian demo memasak..
taliguci said this on June 28, 2008 at 12:26 am |
Asal jangan pagar makan tanaman saja :D
hanny said this on June 28, 2008 at 9:26 am |
Hai erly…
Pagar…? Koq bisa jadi judul postingan nih…? Kreatif kaliii…
Ly, aku kembali bingung lagi deh, background blog mu gelap niiih, nyari2 tempat nulis kommen…he…he..he..
manggis said this on June 28, 2008 at 9:24 pm |
Byuh!! ada yang salah dengan pagar? Kok digoyang, digayeng? dan di…mbuh ah…
iis said this on June 29, 2008 at 3:07 pm |
pagar makan tanaman?
fenny said this on June 29, 2008 at 3:38 pm |
Erly tolong ya. Hahhahaha. Gue inget banget blog salah seorang -yangkatanyadanmenyebutdirinya- aktivis. Mereka emang enggak ada rencana lanjutan pasca pagar jatuh.
Tapi usul benteng itu boleh juga dipertimbanken :D
atta said this on June 30, 2008 at 9:22 am |
he-eh…
Secara psikologis..komunitas itu beranggapan tatkala “Pagar” telah roboh..maka mereka telah berhasil ‘merobohkan’ tirani…(Meski pada kenyataannya belum :) )
syelviapoe3 said this on June 30, 2008 at 3:37 pm |
waktu semanggi rusuh kemaren, lioni di sana. ga jauh dr mobil yg terbakar.. org2 teriak kesenangan di balik pagar dan mencemooh org2 yg lari ketakutan krn api.. dasar pengecut! beraninya di blkg pagar..huh.
lioni said this on June 30, 2008 at 4:58 pm |
Sudah saatnya bikin pagar virtual ?
Yudha said this on July 1, 2008 at 3:00 pm |
Merobohkan pagar mungkin hanya sebuah ekspresi kekecewaan…atas terputusnya sebuah akses komunikasi…
aswin said this on August 17, 2008 at 6:44 am |