Keriput
Entah kenapa, semua cerita cinta dalam berbagai media selalu berakhir sebelum sang tokoh-tokoh itu menikah. Latar waktu drama romantis seolah hanya bagus bila berlangsung saat tak ada ikatan yang legal dalam cinta itu. Ayu Utami pernah mempertanyakan hal ini dalam kumpulan essay nya “Si Parasit Lajang”.
…
Mungkin karena kondisi tanpa kepastian menyodorkan suatu dinamika yang lebih liar, sehingga memberikan kesempatan para penulis untuk bisa mengotak-atik alur cerita cintanya. Sedangkan pernikahan, suatu badan hukum, hanya representasi kondisi statis yang tidak layak atau bahkan tidak mungkin menjadi suatu romantisme.
Tapi justru di titik itulah sebenarnya cinta dapat diuji, ketika ikatan itu menjadi kepastian. Bagaimana gejolak itu bisa tetap ada pada saat semua kondisi dinamis dan labil telah berubah menjadi statis dan stabil. Kondisi di mana logika sudah mengalahkan empati. Kondisi di mana debar jantung pun hanya berganti detak jantung yang biasa. Kondisi di mana waktu berkuasa menyeret-nyeret keindahan tubuh dan wajah manusia, dan menghadirkan keriput dan osteoporosis dalam pembicaraan saat makan malam. Kondisi yang sudah menggantikan kata ganti “sayang”, menjadi “papa-mama”, dan kemudian “kakek-nenek”.
Karenanya, mungkin tidak ada pemandangan yang lebih menyegarkan bila kita dapat melihat medan gaya cinta pada tokoh-tokoh yang termakan waktu itu.
Sepasang kakek dan nenek malam itu ikut berdesakan di antara penumpang KRL lainnya. Karena tidak ada tempat duduk bagi mereka, sang Kakek berdiri berpegangan pada besi pegangan kereta. Sedangkan tangan satunya dengan kokoh menggandeng tangan sang nenek yang tidak kebagian pegangan. Tipe pegangan tangan yang mungkin tidak seromantis cowok abg yang menggandeng ceweknya. Tetapi ada perlindungan dalam tangan kakek yang keriput itu bagi sang nenek.
Ketika kereta terguncang akibat rem mendadak, keduanya dengan sigap saling merangkul. Lalu saling tersenyum simpul menertawakan peristiwa kejutan itu, di antara umpatan penumpang yang mengutuk masinis.
Pelajaran cinta itu terpaksa berhenti dari atas kereta ketika keduanya turun di stasiun tujuan mereka. Lagi-lagi sang kakek dengan sigap memegang tangan sang nenek dan menuntunnya saat melompat turun dari gerbong. Tanpa mereka sadari, banyak pasang mata dari dalam gerbong yang mengikuti mereka sampai jauh. Mungkin sama-sama berharap untuk dapat menemukan lagi cinta-cinta lainnya yang tetap bertahan dalam perjalanan waktu.

Saya juga masih mencoba untuk menemukan satu cinta itu :)
hanny said this on July 21, 2008 at 3:56 pm |
tapi gue heran sama ucapan orang ke pasangan yang baru menikah,
“semoga langgeng sampe kakek – nenek”
padahal masih ada fase setelah ‘kakek-nenek’..
snydez said this on July 21, 2008 at 4:03 pm |
dulu aku sinis dengan cinta-cintaan. kini, rasanya manis.
vira said this on July 21, 2008 at 5:44 pm |
Penggambaran yang manis lho er…so sweet…!
Katanya klo dah setua itu yang ada rasanya hanya sebagai ‘teman’ saja…entahlah! Teman Tapi Mesra kali yaaa….
manggis said this on July 21, 2008 at 9:33 pm |
kata orang, berikan cinta, maka kita akan mendapatkan berlipat-lipat cinta
taliguci said this on July 21, 2008 at 9:50 pm |
Tak layak dinamakan Cinta kalau dia dibatasi oleh waktu. Someday, I wish i could say to him… “I love you more than forever”
Red Antares said this on July 22, 2008 at 12:25 pm |
wah romantis banget ya kakek dan nenek itu :)
linda said this on July 22, 2008 at 3:42 pm |
jadi kangen ama almarhum kakak dan nenek… hiks hiks
ichanx said this on July 23, 2008 at 3:14 am |
mmm…kakak nenek yang romantis,hehehe
Ivana said this on July 24, 2008 at 1:44 am |
semoga saya juga bisa jadi kakek kakek romantis nantinya…
andai waktu bisa di skip 35 tahun ke depan, pasti akan banyak peristiwa pahit di perkawinan yg terlewat dan tinggal nikmatin happy endingnya….
kalo happy ending…. kalo twist ending?!?!
orangutanz said this on July 24, 2008 at 12:51 pm |
Itu kenapa gak ada yang kasih duduk tokoh utama kita itu?
atta said this on July 24, 2008 at 11:43 pm |
cerita cinta paling seru adl saat sebelum menikah, padahal setelah nikah banyak paradigma sebelumnya yg langsung jadi invalid hehe.. what a waste of thoughts… tragis :D
aip said this on July 25, 2008 at 9:54 pm |
cinta sampai kakek nenek? untuk sebagian orang adalah hal yang biasa dan berjalan begitu saja…tapi bagi sebagian lainnya mungkin hal tersebut merupakan barang mewah dan harus dijaga dengan sangat hati-hati….
aswin said this on August 15, 2008 at 10:26 am |
Koq lama banget sih gak pernah diupdate lagi? Jangan hiatus lagi ya…..
Me said this on September 1, 2008 at 5:30 pm |
update update…..
fenny said this on September 9, 2008 at 1:28 am |
Manusia berusaha, pastinya Tuhan menentukan…lakukan yang terbaik untuk pasanganmu, saat ini.
aswin said this on November 6, 2008 at 8:05 am |
kata Vicky Christina Barcelona “Only unfulfilled love could be romantic.”
Ga gitu ya Er?
Dita said this on April 16, 2009 at 9:38 pm |