Well, that’s Life
Sebagai manusia yang masih merasakan hidup di dunia ini sering sekali kita lupa dengan betapa beruntungnya kita atas hidup dan dunia itu. Bahkan ada ungkapan “you don’t know what you’ve got until you lose it“, sesuatu yang kita miliki sering tidak kita sadari keberadaannya hingga sesuatu itu tiada.
Harus diakui memang kita punya sifat dasar yang memalukan sebenarnya, lupa. Lupa ini lah yang jadi dasar segala sifat amit-amit dan ngeselin dari manusia. Ada orang yang lupa cara bersopan-santun, sehingga dijuluki gak tahu aturan, ada yang lupa caranya bersabar sehingga kerjanya marah-marah terus, ada yang sering lupa caranya bernegosiasi sehingga maunya main gebuk terus, dan banyak lagi turunan dari lupa ini yang akhirnya melahirkan konsekwensi gak enak yang harus ditanggung oleh si pelupa itu dan orang sekitarnya.
Dari sekian banyak lupa itu salah satunya adalah lupa untuk menghargai hidup itu sendiri. Mungkin karena keberadaan itu adalah sesuatu yang ‘given‘ satu paket dengan munculnya kita sebagai entitas di alam ini, tanpa kita harus berbuat apapun untuk mendapat hidup. Itu juga mungkin yang membuat kita sering lupa dengan keberadaan manusia-manusia paling dekat dengan kita, orang tua kita. Karena itu dua hal tersebut justru paling sering kita abaikan di saat kita sibuk dalam segala usaha mencari hal-hal lain di dunia yang kita pikir lebih berharga.
Kehilangan orang tua ataupun orang-orang terdekat adalah cara yang paling pahit dan pedih sebagai pelajaran mengenai menghargai sesuatu yang kita miliki. Tapi hal tersebut adalah biasa, dan kita pun akhirnya terlatih untuk terus menjalani hidup yang normal. Tetapi seharusnya hal itu selalu jadi pengingat kita bahwa ada hal lain yang harus lebih kita hargai keberadaannya sebelum hal itu hilang, yaitu hidup kita sendiri. Karena tidak ada kesempatan untuk balik lagi bila sudah mencapai titik itu. No turning back.
Dari situ kita sebenarnya dituntut untuk jangan pernah lupa akan ‘hidup’ kita ini, lebih menghargai dan memaknai hidup, menjaga hidup kita. Kalau hidup diibaratkan seperti binatang piaraan kesayangan, pasti makanan terbaik yang selalu diberikan pada hidup. Hidup juga diberi kandang yang bagus, dibersihkan dari kotoran-kotarannya, bahkan sekali-kali hidup dibawa jalan-jalan atau dibawa ke salon binatang dan general check up oleh dokter hewan.
Masalahnya, selain sering lupa pada hewan piaraan bernama hidup itu, kita juga sering lupa jenis apa sebenarnya hewan kita itu. Kadang hidup kita itu sebenarnya adalah seekor ikan arowana, tapi malah kita kasih makan whisk*s dan diajak jalan-jalan sore.
(Inspired by “We’re all gonna die“, Simon Hoegsberg).

renungan mendalam di akhir pekan.. yg harus gw lakukan adalah mengamati, yg gw pelihara ini ikan arwana atau apa.. :D
mpokb said this on April 25, 2010 at 2:00 pm |
Itulah, gue malah mikir yg gue pelihara ini bukan arwana atau kucing, tapi robot R2D2 :D
Erly said this on April 25, 2010 at 8:13 pm |
iya sifat paling dasar manusia pelupa hehe.. :)
ipied said this on April 25, 2010 at 3:22 pm |
Susah ya jadi manusia, sifat dasar kok gak bagus. Coba sifat dasarnya dermawan gitu :)
Erly said this on April 25, 2010 at 8:15 pm |
wah.. ternyata bang eri punya blog juga.
baru update lagi setelah setelah satu tahun hiatus.
apa kabar bang disana?
pengen cepet2 pulang ke jakarta ya? hehe
presyl said this on April 25, 2010 at 5:58 pm |
Hai Press, iya, hiatus mah udah berkali2 dari jaman baheula :p Pressi rajin ya update :)
Erly said this on April 25, 2010 at 8:16 pm |
Always be grateful for what God has given to us…I think that’s the key to appreciate this life more :)
1nd1r4 said this on April 25, 2010 at 7:06 pm |
Yes, but that’s the problem, we seldomly forget how to be grateful for the give things :)
Erly said this on April 25, 2010 at 8:16 pm |
jangan pernah lupa akan ‘hidup’ kita ini, lebih menghargai dan memaknai hidup, menjaga hidup kita
setujuuuuuuuu
bahaya donk pelihara robot, kalo rusak gimana :D
Linda said this on May 7, 2010 at 11:58 am |