“Dalam keadaan pedih dan terpuruk, terbanglah ke galaksi itu dan tinggalkan bumi ini. Maka di atas sana, bumi ini akan terlihat begitu kecil; hingga kau akan heran mengapa kau harus menangisinya.”
Kutipan dari “Surat untuk Wai Tsz”, Leila S. Chidori, dalam “Derabat, Cerpen pilihan Kompas 1999″.
Teori Galaksi
•June 20, 2008 • 10 Comments27
•June 16, 2008 • 19 Comments“Umur 27 adalah suatu titik di mana semua pintu-pintu dalam kehidupan elo akan dibukakan oleh Allah atau justru ditutup…“
itu adalah ucapan si Yusuf dalam film “3 Hari untuk Selamanya” yang mengatakan bahwa umur 27 adalah saat orang mengambil keputusan-keputusan terpenting dalam hidupnya. Bahkan pada sisi yang paling ekstrim adalah pilihan untuk menutup pintu, bergabung dalam Klub 27 bersama Jimi Hendrix, Jim Morisson, dan Kurt Cobain. Mungkin Chairil Anwar si binatang jalang itu juga sudah bergabung di sana. Pada umur 27 pula dokter Ernesto Guevara bertemu Fidel Castro yang akhirnya mengubah jalan hidupnya menjadi seorang dokter gerilyawan paling disegani yang lebih dikenal dengan “Che”.
Simpang Jalan
•June 9, 2008 • 9 CommentsPercakapan ini terjadi antara dua anak muda si gondrong kribo, dan si rambut lepek (apa kata baku untuk ‘lepek’?). Mereka berbicara dalam logat sunda yang kental.
“Eh gimana kabar band elo? Masih main gak?” Si rambut lepek membuka topik.
“Masih man, bawain lagu sendiri man. Cuma gue rada boring, soalnya musiknya gak komersil man”, jawab si gondrong kribo.
“Maksud elo teh gimana?”
“Iya gitu deh, pada sok idealis anak-anak band gue. Padahal gue pengennya bawain lagu-lagu pop cengeng gitu. Kan cewek-cewek pada suka tuh.”
Si lepek nyengir. “Bener, kalau bawain lagu cengeng elo pasti bakal ngetop kayak Ungu.”
“Yoi.”
“Apalagi gaya lo udah keren gini. Rambut kribo gini kan lagi ngetren banget. Keren abis man rambut lo.”
“Hehehe… iya, apa gue solo aja ya?”
“Boleh juga tuh, bawain lagu model-model Afgan gitu.”
“Wah, iya ya seru pasti tuh, bikin cewek-cewek tambah jerit-jerit, hehehe…”
“Udaaah, gak usah sok idealis lagi man, yang penting mah ngetop dulu, trus tajir deh, hehehe…”
“Paling bisa siah, pengen juga gue gitu. Jadi gue gak usah potong rambut nih?”
“Jangan man, mending gitu aja. Percaya sama aing.”
Si kribo pun tersenyum-senyum simpul penuh percaya diri sampai salah tingkah. Mungkin dia lagi membayangkan bernyanyi di panggung dengan lagu balada yang mendayu-dayu dan para fans cewek jejeritan sampai pingsan di depan panggung.
“Man, tapi bokap gue gak setuju gue main musik man. Gue disuruh kuliah yang bener aja. Gimana dong?”
Dan percakapan itu terpaksa terputus karena serombongan orkes dangdut jalanan dengan amplifier bas dan gitar bersama aki tentengan tiba-tiba membesarkan volume speakernya, “jreeennngggg…“, ditambah sedikit feedback.
“Ya permisi bapak ibu kakak sekalian, satu-dua tembang pelipur lara dari kami…”
Membalik Waktu
•June 3, 2008 • 12 CommentsKita selalu menyimpan keinginan untuk bisa kembali ke masa lalu. Biasanya dipicu karena romantisme masa lalu atau sekedar ingin membatalkan suatu pilihan di masa lalu untuk merubah jalan hidup di masa sekarang. Sehingga sering dijadikan lirik lagu: “If I can turn back time…” atau “Bila waktu dapat kuputar kembali…“
Tetapi dibalik keinginan gila itu, sebenarnya terselip sebuah paradox. Sebuah pertentangan antara dua premis positif yang saling bertolak belakang, yang pada akhirnya akan membuyarkan mimpi untuk membalikkan waktu.
Membuat Lumpur
•May 29, 2008 • 4 CommentsLumpur 1
Siapkan tanah lempung (clay) atau lanau (silt), tambahkan air sedikit demi sedikit sambil diaduk. Penambahan kadar air tersebut akan membawa materi tanah melewati batas plastis (liat) dan bila terus ditambahkan akan terlampaui batas cairnya. Tanah dalam kondisi ini sudah dalam kondisi liquid atau sudah menjadi lumpur.
Proses yang tidak sulit, terinspirasi dari eksperimen masa kecil dan praktikum mekanika tanah di laboratorium. Tapi gak jelas juga mau diapakan lumpurnya kalau sudah jadi. Yang jelas, konsekwensi dari main lumpur adalah kerja bakti membereskan bekas-bekasnya sampai bersih seperti semula.
